.
BAB II
PEMBAHASAN
1. Konsep dasar pendekatan konseling
behavioral
Konseling Behavioral adalah salah satu dari teori-teori konseling yang
ada pada saat ini. Konseling behavioral merupakan
bentuk adaptasi dari aliran psikologi behavioristik,
yang menekankan perhatiannya pada perilaku yang tampak.
Behaviorisme adalah aliran dalam psikologi yang didirikan oleh John B. Watson
pada tahun 1913 dan digerakkan oleh Burrhus Frederic Skinner. Behaviorisme
lahir sebagai reaksi atas psikoanalisis yang berbicara tentang alam bawah yang
tidak tampak. Behaviorisme ingin menganalisis bahwa perilaku yang tampak
saja yang dapat diukur, dilukiskan dan diramalkan. Terapi perilaku ini lebih
mengkonsentrasikan pada modifikasi tindakan, dan berfokus pada perilaku saat
ini daripada masa lampau. Belakangan kaum behavioris lebih dikenal dengan teori
belajar, karena menurut mereka, seluruh perilaku manusia adalah hasil belajar.
Belajar artinya perubahan perilaku organisme sebagai pengaruh lingkungan (
Rakhmat, 1994:21).
Behaviorisme memandang bahwa ketika dilahirkan, pada dasarnya manusia tidak
memiliki bakat apa-apa. Manusia akan berkembang berdasarkan stimulus yang
diterimanya dari lingkungan di sekitarnya. Tingkah laku ., pada individu
dipengaruhi oleh kepuasan dan ketidak puasan yang diperolehnya.
Istilah
behavioral conseling pertama sekali dikemukakan oleh Krumboltz.Ciri-ciri utama behavioral conseling ini adalah
1. Proses pendidikan :Konseling membantu klien mempelajari tingkah laku baru
untuk memecahkan masalahnya.
2. Teknik rakit secara individual: Dalam proses konseling, menentukan tujuan
konseling, proses asesmen,dan teknik-teknik dibangun oleh klien dengan bantuan
konselor.
3. Metodologi ilmiah: Konseling behavioral dilandasi oleh metode ilmiah dalam
melakukan assesmen dan evaluasi konseling.
Pendekatan behavioral didasari oleh pandangan ilmiah tentang tingkah laku
manusia yaitu pendekatan yang sistematik dan terstruktur dalam konseling.
Pandangan ini melihat individu sebagai produk dari kondisioning sosial,
sedikitsekali melihat potensi individu sebagai prosedur lingkungan. Pada awal
pendekatan ini hanya mempercayai hal yang dapat diamati dan diukur
sebagaisesuatu yang sah dalam pengukuran kepribadian (radical behaviorism), dan
dikembangkan lebih lanjut yang mulai menerima fenomena yang abstrak seperti id,
ego, super ego dan ilusi. Pendekatan ini memandang perilaku yang malajustru
sebagai hasil belajar dari lingkungan secara keliru.
Konseling behavioral dikenal juga dengan modifikasi perilaku yang dapat
diartikan sebagai tindakan yang bertujuan untuk mengubah perilaku.Modifikasi
perilaku memiliki kelebihan dalam menangani masalah-masalah yang di alami oleh
individu, yaitu :
1. Langkah-langkah dalam memodifikasi perilaku dapat direncanakan terlebih
dahulu.
2. Perincian pelaksanaan dapat diubah selama treatmen disesuaikan dengan
kebutuhan konseling.
3. Bila berdasarkan evaluasi sebuah teknik gagal memberikan perubahan pada
klien, teknik tersebut dapat diganti dengan teknik lain.
4. Teknik-teknik konseling dapat dijelaskan dan diatur secara rasional
sertadapat diprediksi dan dievaluasi secara objektif.
5. Waktu yang dibutuhkan lebih singkat
Dalam memahami tingkah laku, terdapat beberapa model tingkah laku yang
dipengaruhi oleh teori-teori psikologi. Model-model tersebut antara lain:
1. Model psikodinamika yaitu tingkah laku manusia ditentukan kehidupandinamika
intra-psikis individu (id, ego, superego).
2. Model biofisik yaitu tingkah laku ditentukan oleh organisasi
neurologi,belajar perseptual motor, kesiapan fisiologis, integrasi dan
perkembangansensori.
3. Model lingkungan yaitu tingkah laku ditentukan oleh interaksi
antaraindividu dan lingkungan.
4. Model tingkah laku yaitu tingkah laku dapat diobservasi dan diukur.
Konselor behavioral membatasi perilaku sebagai fungsi interaksi antara
pembawaan dengan lingkungan. Perilaku yang dapat diamati merupakan suatu
kepedulian dari para konselor sebagai kriteria pengukuran keberhasilan
konseling. Menurut pandangan ini manusia manusia bukanlah hasil dari dorongan
tidak sadar seperti yang di kemukakan oleh Freud.
Dalam konsep behavioral, perilaku merupakan hasil belajar, sehinga dapat diubah
dengan manupulasi dan mengkreasi kondisi-kondisi belajar. Pada dasarnya, proses
konseling merupakan suatu penataan proses atau pengalaman belajar untuk
membantu individu memngubah perilakunya agar dapat memecahkan masalah.
Menurut Pavlov, Belajar merupakan proses perubahan perilaku yang disebabkan
oleh pengalaman. perubahan Anak yang merasa ketakutan ketika berjalan sendiri
pada malam hari merupakan hasil dari belajar anak telah belajar menghubungkan
kegelapan dengan suatu keadaan yang menyeramkan. Reaksi ini dapat diperoleh
secara tidak sadar maupun secara sadar dan juga dapat diperoleh dari hasil
belajar
Thoresen (shertzer & Stone, 1980, 188) memberi ciri konseling Behavioral
sebagai berikut:
1. Kebanyakan perilaku manusia dipelajari dan karna itu dapat di ubah.
2. Perubahan-perubahan khusus terhadap lingkungan individu dapat membantu
dalam mengubah perilaku-perilaaku yang relevan. Prosedur-prosedur konseling
beerusaha membawa perubahan-perubahan yang relevan dalam perilaku klien dengan
mengubah lingkungan.
3. Prinsip-prinsip belajar sepesial seperti “reinforcement” dan “social
modelling”, dapat digunakan untuk mengembangkan prosedur-prosedur konseling.
4. Keefektifan konselingdan hasil konseling dinilai dari perubahan dalam
perilaku-perilaku khusus diluar wawancara prosedur-prosedur konseling.
5. Posedur-prosedur konseling tidak statis , tetap atau ditentukan sebelumnya,
tetapi dapat secara khusus di disain untuk klien dalam memecahkan masalah
khusus.
Selanjutnya dikatakan bahwa terapi
Behavioral berusaha menerapkan metode dan prosedur eksperimental ke dalam
praktek klinis. Oleh karena itu maka terapi yang baik adalah dari ilmu yang
baik.
Hal yang mendasar dalam konseling
Behavioral adalah prinsip penguatan (rainforcement) sebagai suatu kreasi dalam
upaya memperkuat atau mendukung suatu perilaku yang dikendaki. Konsep penguatan
ini berasal dari percobaan Pavlov (teori classical conditioning), dan Skinner
(teori intrumental conditioning). Ada tiga macam hal yang yang dapat memberi
pengguatan yaitu (1) posistive reinvorcer. (2) negative reinvorcer. (3) no
consequence and neutral stimuli.
·
Pendangan tentang manusia
Dalam pandangan behavioral manusia pada
hakikatnya bersifat mekanistik atau merespon kepada lingkungan dengan kontrol
yang terbatas, hidup dalam alam deterministik dan sedikit peran aktifnya dalam
memilih martabatnya. Manusia memulai kehidupannya dengan memberikan reaksi
terhadap lingkungannya dan interaksi ini menghasilkan pola-pola perilaku yang
kemudian membentuk kepribadian. Tingkah laku seseorang ditentukan oleh banyak
dan macamnya penguatan yang diterima dalam situasi hidupnya.
Tingkah laku dipelajari ketika individu
berinteraksi dengan lingkungan, melalui hukum-hukum belajar pembiasaan klasik,
pembiasaan operan, dan peniruan. Manusia bukanlah hasil dari dorongan tidak
sadar melainkan merupakan hasil belajar, sehingga ia dapat diubah dengan
memanipulasi dan mengkreasi kondisi-kondisi pembentukan tingkah laku.
Manusia cenderung akan mengambil stimulus
yang menyenangkan dan menghindarkan stimulus yang tidak menyenangkan, sehingga
dapat menimbulkan tingkah laku yang salah atau tidak sesuai. Banyak tingkah
laku yang menyimpang karena individu hanya mengambil sesuatu yang disenangi dan
menghindar dari yang tidak disenangi.
Menurut Corey (2003: 198) menyatakan bahwa
pendekatan behavior tidak menguraikan asumsi-asumsi filosofis tertentu tentang
manusia secara langsung. Setiap manusia dipandang memiliki
kecenderungan-kecenderungan positif dan negative yang sama. Manusia pada
dasarnya di dibentuk dan ditentukan oleh lingkungan social budayanya. Segenap
tingkahlaku manusia itu dipelajari.
Sementara itu, Winkel (2004: 420)
menyatakan bahwa konseling behavioristik berpangkal pada beberapa keyakinan
tentang martabat manusia, yang sebagian bersifat falsafah dan sebagian bersifat
psikologis, yaitu:
·
Manusia pada dasarnya tidak berakhlak baik
atau buruk, bagus atau jelek.
·
Manusia mampu untuk berefleksi atas
tingkahlakunya sendiri, menangkap apa yang dilakukannya, dan mengatur serta
mengontrol perilakunya sendiri.
·
Manusia mampu untuk memperoleh dan
membentuk sendiri suatu pola tingkahlaku yang baru melalui proses belajar.
·
Manusia dapat mempengaruhi perilaku orang
lain dan dirinya pun dipengaruhi oleh perilaku orang lain.
Berdasarkan dua pendapat diatas, dapat
disimpulkan bahwa hakikat manusia pada pandangan behavioris yaitu pada dasarnya
manusia tidak memiliki bakat apapun, semua tingkahlaku manusia adalah hasil
belajar. Manusia pun dapat mempengaruhi orang lain, begitu pula sebaliknya.
Manusia dapat menggunakan orang lain sebagai model pembelajarannya.
Hakikat manusia menurut pandekatan
konseling behavioral adalah pasif dan mekanistik, manusia dianggap sebagai
sesuatu yang dapat dibentuk dan diprogram sesuai dengan keinginan lingkungan
yang membentuknya. Manusia merespon lingkungan dengan kontrol terbatas, hidup
dalam alam deterministik dan memiliki sedikit peran aktif dalam memilih
martabatnya. Manusia memulai kehidupannya dengan memberikan reaksi terhadap
lingkungannya, dan interaksi ini menghasilkan pola-pola perilaku yang kemudian
membentuk kepribadian.
Dalam pandangan behavioristik, kepribadian
manusia merupakan perilaku yang terbentuk berdasarkan hasil pengalaman yang
diperoleh dari interaksi seseorang dengan lingkungannya. Kepribadian merupakan
pengalaman seseorang akibat proses belajar. Aliran behavioristik memiliki
asumsi-asumsi dasar terhadap perilaku manusia sebagai berikut; (1)manusia
memiliki potensi untuk segala jenis perilaku, (2)manusia mampu mengkonsepsikan
dan mengendalikan perilakunya,(3)manusia mampu mendapatkan perilaku baru,
(4)manusia dapat mempengaruhi perilaku orang lain sebagaimana perilakunya juga
dipengaruhi oleh orang lain.
·
Pandangan tentang Kepribadian
Hakikat kepribadian
menurut pendekatan behavioral adalah tingkah laku. Selanjutnya diasumsikan
bahwa tingkah laku dibentuk berdasarkan hasil dari segenap pengalamannya yang
berupa interaksi invidu dengan lingkungannya. Kepribadian seseorang merupakan
cerminan dari pengalaman, yaitu situasi atau stimulus yang diterimanya. Merujuk
asumsi ini maka untuk memahami kepribadian manusia tidak lain adalah
mempelajari dan memahami bagaimana terbentuknya suatu tingkah laku.
1. Teori Pengkondisian Klasik
Menurut teori ini
tingkah laku manusia merupakan fungsi dari stimulus. Eksperimen yang dilakukan
Pavlov terhadap anjing telah menunjukkan bahwa tingkah laku belajar terjadi
karena adanya asosiasi antara tingkah laku dengan lingkungannya. Belajar dengan
asosiasi ini biasanya disebut classical conditioning. Pavlov
mengklasifikasikan lingkungan menjadi dua jenis, yaitu Unconditioning Stimulus(UCS) dan Conditioning Stimulus (CS). UCS adalah
lingkungan yang secara alamiah menimbulkan respon tertentu yang disebut sebagai
Unconditionting Respone (UCR), sedangkan CS tidak otomatis menimbulkan respon
bagi individu, kecuali ada pengkondisian tertentu. Respon yang terjadi akibat
pengkondisian CS disebut Conditioning Respone (CR).
Dalam eksperimen tersebut ditemukan bahwa tingkah laku tertentu dapat terbentuk
dengan suatu CR, dan UCR dapat memperkuat hubungan CS dengan CR. Hubungan CS
dengan CR dapat saja terus berlangsung dan dipertahankan meskipun individu
tidak disertai oleh UCS dan dalam keadaan lain asosiasi ini dapat melamah tanpa
diikuti oleh UCS.
Eksperimen yang dilakukan Pavlov ini dapat digunakan untuk menjelaskan
pembentukan tingkah laku manusia. Gangguan tingkah laku neurosis khususnya
gangguan kecemasan dan phobia banyak terjadi karena aosiasi antara stimulus
dengan respon individu. Pada mulanya lingkungan yang menjadi sumber itu
bersifat netral bagi individu, tetapi karene terkondisikan bersamaan dengan UCS
tertentu, maka dapat memunculkan tingkah laku penyesuaian diri yang salah.
Dalam pembentukan tingkah laku yang normal dapat terjadi dalam perilaku rajin
belajar misalnya, yang terbentuk karena adanya asosiasi.
1. Teori Pengkondisian Operan
Teori pengkondian yang
dikembangkan oleh Skinner ini menekankan pada peran lingkungan dalam bentuk
konsekuensi-konsekuensi yang mengikuti dari suatu tingkah laku.
Menurut teori ini, tingkah laku individu terbentuk atau dipertahankan sangat
ditentukan oleh konsekuensi yang menyertainya. Jika konsekuensinya menyenangkan
maka tingkah lakunya cenderung dipertahankan dan diulang, sebaliknya jika konsekuensinya
tidak menyenangkan maka tingkah lakunya akan dikurangi atau dihilangkan.
Dari prinsip ini dapat dipahami bahwa tingkah laku bermasalah dapat terjadi dan
dipertahankan oleh individu di antaranya karena memperoleh konsekuensi yang
menyenangkan yang berupa ganjaran dari lingkungan. Konsekuensi yang tidak
tidak menyenangkan yang berupa hukuman tidak cukup kuat untuk mengurangi atau
melawan ganjaran yang diperoleh dari lingkungan lainnya. Dipertegas oleh
Skinner bahwa tingkah laku operan sebagai tingkah laku belajar merupakan
tingkah laku yang non reflektif, yang memiliki prinsip-prinsip yang lebih aktif
dibandingkan dengan pengkondisian klasik.
1. Teori Peniruan
Asumsi dasar teori yang
dikembangkan oleh Bandura ini adalah bahwa tingkah laku dapat terbentuk melalui
observasi model secara langsung yang disebut dengan imitasi dan melalui
pengamatan tidak langsung yang disebut denganvicarious conditioning. Tingkah laku yang terbentuk karena mencontoh
langsung maupun mencontoh tidak langsung akan menjadi kuat kalau mendapat
ganjaran.
Paparan kerangka teori behavioral di atas menunjukkan bahwa tingkah laku yang
tampak lebih diutamakan dibadingkan dengan sikap atau perasaan individu.
Pandangan para behavioris juga menganggap manusia sama saja, tidak ada yang
baik dan tidak ada yang jahat. Semasa lahirnya mereka adalah sama,
masing-masing mempunyai potensi seimbang ke arah menjadi sama ada baik ataupun
jahat. Hasilnya, ahli-ahli teori tingkah laku tidak sepenuhnya memberikan
definisi tabiat asas kemanusiaan itu yang boleh membantu teori-teori mereka
sendiri. Bagaimanapun, Dustin dan George menyenaraikan empat andaian berhubung
dengan tabiat kemanusiaan dan bagaimana manusia berubah yang menjadi inti kepada
konseling tingkah laku itu sendiri, diantaranya adalah :
·
Manusia itu dilihat sebagai manusia biasa,
tidak ada yang sepenuh-penuhnya jahat atau sepenuh-penuhnya baik, tetapi adalah
sebagai organisme berpengalaman yang mempunyai potensi kepada semua jenis tingkah
laku.
·
Manusia berupaya memahami konsep serta
mengawal tingkah lakunya sendiri.
·
Manusia berupaya memperoleh tingkah
lakunya yang baru.
·
Manusia mempunyai keupayaan untuk
mempengaruhi tingkah laku lain sebagaimana ia dipengaruhi oleh orang lain
terhadap tingkah lakunya sendiri.
Bagi konselor tingkah laku, individu adalah hasil daripada pengalaman.
Ahli-ahli tingkah laku melihat tingkah laku yang salah terima itu sebagai
makhluk yang mempelajari tingkah lakunya, perkembangan dan pembaikannya adalah
sama dengan sebarang tingkah laku lain. Satu implikasi daripada pandangan ini
ialah tidak adanya tingkah laku yang salah terima bagi diri mereka itu. Selain
itu sesuatu tingkah laku itu menjadi wajar disebabkan seseorang itu
menganggapnya tidak begitu. Setengah-setengah tingkah laku mungkin dianggap
wajar di rumah, tetapi tidak wajar di sekolah, begitu juga sebaliknya.
2. Asumsi Perilaku Bermasalah
Tingkah laku bermasalah adalah tingkah
laku atau kebiasaan-kebiasaan negatif atau tingkah laku yang tidak tepat, yaitu
tingkah laku yang tidak sesuai dengan tuntutan lingkungan. Tingkah laku yang
salah hakikatnya terbentuk dari cara belajar atau lingkungan yang salah.Manusia
bermasalah mempunyai kecenderungan merespon tingkah laku negatif dari
lingkungan.
Tingkah laku maladaftif terjadi karena
kesalah pahaman dalam menanggapi lingkungan dengan tepat. Seluruh tingkah laku
manusia didapat dengan cara belajar dan dapat diubah dengan menggunakan
prinsip-prinsip belajar
Perilaku yang bermasalah dalam pandangan
Behavioris dapat dimaknakan sebagai perilaku atau kebiasaan-kebiasaan negative
atau perilaku yang tidak tepat, yaitu perilaku yang tidak sesuai dengan yang
diharapkan. Perilaku yang salah suai terbentuk melalui proses interaksi dengan
lingkungannya. Artinya bahwa perilaku individu itu meskipun secara social
adalah tidak tepat, dalam beberapa saat memperoleh ganjaran dari pihak tertentu
Dari cara demikian akhirnya perilaku yang tidak diharapkan secara sosial atau
perilaku yang tidak tepat itu menguat pada individu
Perilaku yang salah suai dalam penyesuaian
dengan demikian berbeda dengan perilaku normal. Perbedaan ini tidak terletak
pada cara mempelajarinya, tetapi pada tingkatannya yaitu tidak wajar dipandang.
Perilaku yang perlu dipertahankan atau dibentuk pada individu adalah perilaku
yang bukan sekedar memperoleh kepuasan pada jangka pendek, tetapi perilaku yang
tidak menghadapi kesulitan-kesulitan yang lebih luas, dan dalam jangka yang
lebih panjang.
Manusia bermasalah itu mempunyai
kecenderungan merespon tingkah laku negatif dari lingkungannya. Tingkah laku
maladaptif terjadi juga karena kesalapahaman dalam menanggapi lingkungan dengan
tepat. Seluruh tingkah laku manusia didapat dengan cara belajar dan juga
tingkah laku tersebut dapat diubah dengan menggunakan prinsip-prinsip belajar.
Dilihat dari sudut pandang behavioris,
perilaku bermasalah dapat dimaknai sebagai perilaku atau kebiasaan yang negatif
atau dapat dikatakan sebagai perilaku yang tidak tepat dan tidak sesuai dengan
yang diharapkan. Masalah perilaku yang biasanya sering
terjadi pada konseli meliputi serangan panik, membantu anak untuk mengatasi
rasa takut terhadap gelap, meningkatkan produktivitas kreatif, mengelola
kecemasan dalam situasi sosial, mendorong berbicara di depan kelas, pengendalian
merokok, dan berurusan dengan depresi
Munculnya perilaku bermasalah disebabkan
oleh beberapa hal, antara lain:
·
adanya salah penyesuaian melalui proses
interaksi dengan lingkungan.
·
adanya pembelajaran yang salah dalam
keluarga, lingkungan sekolah, tempat bermain dan lain-lain. Seperti halnya
kehidupan di kota-kota besar pada saat ini begitu kompleks dan bervariasi.
Sikap hidup menjadi individualistis, egois, apatis dan hubungan sosial menjadi
renggang.
Dalam suasana hidup seperti di atas,
banyak orang menggunakan mekanisme pelarian dan mekanisme pertahanan diri yang
negatif. Untuk dapat bertahan dan menghindari kesulitan hidup tidak sedikit
terjadi tindakan kriminal. Bentuk mekanisme yang negatif menyebabkan timbulnya
tingkah laku yang tidak normal (patologis).
Menurut pandangan behavioral, perilaku
bermasalah adalah kebiasaan negatif atau perilaku yang tidak tepat dan tidak
sesuai dengan yang diharapkan. Perilaku bermasalah ini dapat disebabkan oleh
beberapa hal, diantaranya adalah adanya salah suai dalam proses interaksi
dengan lingkungan, adanya pembelajaran yang salah dalam rumah tangga, tempat
bermain, lingkungan sekolah, dan lingkungan lainnya. Perilaku dikatakan salah
suai jika perilaku tersebut tidak membawa kepuasan bagi individu, atau membawa
individu kepada konflik dengan lingkungannya.
Terbentuknya suatu perilaku dikarenakan
adanya pembelajaran, perilaku itu akan dipertahankan atau dihilangkan
tergantung pada peran lingkungan dalam bentuk konsekuensi yang menyertai
perilaku tersebut. Misalnya perilaku merusak (destructif) di kelas dapat
bertahan karena adanya ganjaran (reinforcement) berupa pujian dan dukungan dari
sebagian teman-temannya dan merasa puas dengan ganjaran itu, sedangkan hukuman
(punishment) yang diberikan oleh guru tidak cukup kuat untuk melawan kekuatan
ganjaran yang diperolehnya. Perubahan perilaku yang diharapkan dapat terjadi
jika pemberian ganjaran atau hukuman dapat diberikan secara tepat.
Terbentuknya perilaku yang dicontohkan di
atas disebabkan karena adanya peran lingkungan dalam bentuk
konsekuensi-konsekuensi yang mengikuti dari suatu perilaku dan hal itu termasuk
dalam teori belajar perilaku operan dari Skinner. Selain teori belajar Skinner,
Bandura juga mencontohkan perilaku agresif di kalangan anak-anak.
Timbulnya perilaku bermasalah yang
ditandai dengan tindakan melukai atau menyerang baik secara fisik maupun
verbal, dikarenakan adanya proses mencontoh atau modeling baik secara langsung
yang disebut imitasi atau melalui pengamatan tidak langsung (vicarious).
Misalnya anak bersikap agresif karena sering dipukuli atau anak sering melihat
orang tuanya bertengkar bahkan lewat media televisi anak dapat mencontoh
adegan-adegan yang bersifat kekerasan.
Perilaku yang salah dalam penyesuaian
berbeda dengan perilaku normal. Perbedaan ini tidak terletak pada cara
mempelajarinya, tetapi pada tingkatannya, yaitu tidak wajar dipandang, dengan
kata lain perilaku dikatakan mengalami salah penyesuaian jika tidak selamanya
membawa kepuasan bagi individu atau akhirnya membawa individu pada konflik
dengan lingkunganya. Rasa puas yang dirasakan bukanlah ukuran bahwa perilaku
itu harus dipertahankan, karena boleh jadi perilaku itu akan menimbulkan
kesulitan di kemudian hari. Perilaku yang perlu dipertahankan atau dibentuk
pada individu adalah perilaku yang tidak menimbulkan kesulitan-kesulitan yang
lebih luas dan dalam jangka yang lebih panjang.
Menurut Latipun (2008: 135) menyatakan
bahwa perilaku yang bermasalah dalam pandangan behavioris dapat dimaknai
sebagai perilaku atau kebiasaan-kebiasaan negative atau perilaku yang tidak
tepat, yaitu perilaku yang tidak sesuai dengan yang diharapkan.
Konsleing behavioral digunakan untuk
membantu masalah konseli yang terkait dengan perilaku-perilaku maladaptif.
perilaku yang bermasalah dalam pandangan behaviorist dapat dimaknai sebagai
perilaku atau kebiasaan-kebiasaan negatif atau perilaku yang tidak tepat, yaitu
perilaku yang tidak sesuai dengan yang diharapkan. konseling behavioral
juga dapat menangani masalah perilaku mulai dari kegagalan individu untuk
belajar merespon secara adaptif hingga mengatasi gejala neurosis Sedangkan
menurut Feist & Feist (2008: 398) menyatakan bahwa perilaku yang tidak
tepat meliputi:
1. Perilaku terlalu bersemangat yang tidak sesuai dengan situasi yang
dihadapi, tetapi mungkin cocok jika dilihat berdasarkan sejarah masa lalunya.
2. Perilaku yang terlalu kaku, digunakan untuk menghindari stimuli yang tidak
diinginkan terkait dengan hukuman.
3. Perilaku yang memblokir realitas, yaitu mengabaikan begitu saja stimuli
yang tidak diinginkan.
4. Pengetahuan akan kelemahan diri yang termanifestasikan dalam
respon-respon-respon menipu diri.
Bagi individu tingkah laku yang tidak
tepat akan menimbulkan berbagai kesulitan baik bagi diri individu itu sendiri,
maupun terhadap lingkungan sekitarnya. Menurut aliran behavioral tingkah laku
yang tidak tepat dipelajari dengan cara yang sama dengan tingkah laku yang
tepat. Tingkah laku ini dipelajari karena pada perkembangan tertentu pernah
menjadi jalan untuk memperoleh kepuasan.
Misalnya siswa berbuat kenakalan dikelas
karena mereka belajar bahwa cara itulah yang perlu efektif untuk menarik
perhatian guru. Hukuman guru diterima anak sebagai hadist yang memberi kepuasan
kebutuhan perhatian. Walaupun orang lain memandang tingkah laku itu tidak
tepat, namun bagi siswa dapat memberi reinforcement yang diharapkannya. Sama
halnya, orang yang menarik diri, yang di pandang terisolir secara sosial.
Hadiah dari tingkah laku menarik diri adalah tidak perlu berpartisipasi dengan
situasi yang menakutkan, dimana takut ini juga dipelajari melalui pengalaman
yang tidak menyenangkan di masa lalu.
Contoh lain : seorang anak yang tidak
mengerjakan soal-soal mata pelajaran matematika, bagi siswa lain tentu keadaan
ini merugikan, karena tidak boleh mengikuti mata pelajaran. Namun bagi siswa
tersebut merasa puas karena ia tidak senang dengan mata pelajaran matematika
sebagai pekerjaan rumah. Guru menyuruhnya keluar tidak mengikuti pelajaran
matematika, ia merasa puas karena dapat memberikan reinforcement yang
diharapkan.
Tingkah laku yang tidak tepat berbeda dengan yang tepat, hanya dalam
derajat tingkah laku itu mengecewakan individu dan lingkungannya. secara luas,
kebudingayaan ikut menentukan mana tingkah laku yang tepat dan tidak tepat.dariinteraksi dengan kebudayaan impuls individu belajar merangsang apa saja
yang dapat memuaskan dan tidak dapat memuaskan diri dan lingkungannya, dan
menyususnnya dalam hirarki khasanah tingkah laku.
Tingkah laku manusia dapat dilihat dari
aspek kondisi yang menyertai atau akibat yang menyertai tingkah laku setelah
terbentuk dengan anticedent yang disebut dengan consequence.
Tingkah laku dipelajari ketika individu berinteraksi dengan lingkungan melalui
hukum-hukum belajar : (Alwisol, 2011 : 322)
1. Pembiasaan klasik, yang ditandai dengan satu stimulus yang menghasilkan
satu respon. Misalnya bayi merespon suara keras dengan takut.
2. Pembiasaan operan, ditandai dengan adanya satu stimulus yang menghasilkan
banyak respon. Pengondisian operan memberikan penguatan positif yang bisa
memperkuat tingkah laku. Sebaliknya penguatan negatif bisa memperlemah tingkah
laku. Munculnya perilaku akan semakin kuat apabila diberikan penguatan positif
dan akan menghilang apabila dikenai hukuman.
3. Peniruan, yaitu orang tidak memerlukan reinforcement agar bisa memiliki
tingkah laku melainkan ia meniru. Syarat dalam meniru tingkah laku
yaitu:Tingkah laku yang ditiru memang mampu untuk ditiru oleh individu yang
bersangkutan dan tingkah laku yang ditiru adalah perbuatan yang dinilai publik
positif.
Konseling Behavioral sebagai model
konseling yang memiliki pendekatan yang berorientas pada perubahan perilaku
menyimpang dengan menggunakan prinsip-prinsip belajar. Perilaku manusia
termasuk perilaku yang menyimpang terbentuk karena belajar dan perilaku itu
dapat diubah dengan menggunakan prinsip-prinsip belajar. Belajar yang dimaksud
disini adalah perubahan perilaku yang relatif permanen sebagai hasil dari
latihan atau pengalaman.
Teoritisi belajar berpendapat, tingkah
laku yang tidak tepat dapat diterangkan dengan prinsip yang sama dengan pola
tingkah laku yang tidak tepat, karena pada dasarnya semua tingkah laku adalah
usaha individu untuk memodifikasi situasi sehingga dapat memberikan kepuasan
setiggi-tingginya.
Semua tingkah laku dibentuk melalui proses
belajar, tetapi tidak peduli hasilnya nanti adaptif dan maladaptif. Individu
memantapkan pola tingkah lakunya karena dapat memperoleh kepuasan-kepuasan. Ini
yang akan menjadi salah satu kunci proses konseling behavioral, yakni kemampuan
konselor membantu klien menentukan kepuasan bagaimana yang bakal diperolehnya
dari suatu tingkah laku.
Berdasarkan uraian diatas, dapat di
simpulkan bahwa tingkah laku yang tidak dapat diperoleh dan dikembangkan oleh
seseorang karena ia belajar dengan salah, sehingga tingkah lakunya tidak tepat,
kurang, dan berlebihan. Misalnya menyendiri, belajar hanya dengan waktu yang
paling minimal, merokok berlebihan, pobia, tidur berlebihan, ngeluyur, tidsk
ksruan dan sebagainya
Banyak tingkah laku yang menyimpang karena
individu itu hanya mengambil sesuatu yang disenangi, dan menghindari yang tidak
disenangi. Psikoterapi melatih klien untuk dapat bertingkah laku yang menurut
pendapatnya tidak menyenangkan. Bila seorang klien datang pada seorang
psikoterapis bahwa ia mengalami suatu kecemasan. Salah satu cara untuk
menghindarkan kecemasan itu dengan memanipulasi stimulus sehingga menimbulkan
respon yang mendatangkan suatu ganjaran, maka terapis itu menolong klien
mengurangi kecemasan.
Hal ini terjadi karena stimulus yang tidak
menyenangkan (menyakitkan) sehingga perilaku yang tidak dikehendaki
(simtomatik) tersebut terhambat kemunculannya. Stimulus yang tidak menyenangkan
disajikan tersebut diberikan secara bersamaan dengan munculnya perilaku yang
tidak dikehendaki kemunculannya. Pengkondisian ini diharapkan terbentuk
asosiasi antara perilaku yang tidak dikehendaki dengan stimulus yang tidak
menyenangkan.
Perilaku bermasalah adalah perilaku
individu yang negative dan / atau perilaku yang tidak sesuai dengan apa yang
diharapkan, perilaku yang tidak membawa kepuasaan bagi individu, atau perilaku
yang menyebabkan konflik antara individu dengan lingkungannya. Perilaku
bermasalah terjadi karena adanya salah suai dalam proses interaksi individu
dengan lingkungannya. Perilaku bermasalah terjadi karena proses belajar, terbentuk
oleh peristiwa-peristiwa yang terjadi sebelumnya.
Manusia bermasalah itu mempunyai
kecenderungan merespon tingkah laku negatif dari lingkungannya. Tingkah laku
maladaptif terjadi juga karena kesalapahaman dalam menanggapi lingkungan dengan
tepat. Seluruh tingkah laku manusia didapat dengan cara belajar dan juga
tingkah laku tersebut dapat diubah dengan menggunakan prinsip-prinsip belajar.
Perilaku bermasalah juga dapat terbentuk karena modeling, perilaku
mencontoh, baik berupa pengamatan langsung (imitasi), atau secara tidak langsung (vicarious). Teori belajar dengan
mencontoh ini dapat dilakukan dengan modeling dan vicarious. Modeling merupakan
proses belajar individu dengan menirukan atau mengulangi apa yang dilakukan
oleh orang lain sebagai model dengan melibatkan penambahan atau pengurangan
tingkah laku yang diamati, menggeneralisir berbagai pengamatan sekaligus
melibatkan proses kognitif. Vicarious classical conditioning merupakan modeling
yang digabung dengan conditioning classic. Modeling ini digunakan untuk
mempelajari respon emosional. Proses vicarious classical conditioning ini dapat
dilihat dari kemunculan respon emosional yang sama dalam diri seseorang dan
respon tersebut ditujukan ke obyek yang ada didekatnya saat dia mengamati model
ituAnak yang sering dihukum fisik, ditampar, dipukul, menyaksikan kedua
orangtuanya bertengkar, maka anak akan belajar dan mencontoh perilaku agresif
tersebut. Perilaku bermasalah dapat juga terjadi karena mencontoh
adegan-adengan dalam games, TV, atau film.
Perilaku bermasalah ini akan tetap atau berubah tergantung pada
konsekuensi-konsekuensi yang menyertai perilaku tersebut dalam lingkungan
dimana individu berada. Seorang anak yang membuat gaduh di kelas, akan terus
berulah jika lingkungan, guru dan teman sekelas, melakukan pembiaran, pujian
atau bahkan dukungan (reinforcement), sebaliknya jika
lingkungan memberikan punishment (hukuman) maka perilaku
tersebut akan berhenti. Perubahan perilaku terjadi jika punishment dan reinforcement diberikan dengan tepat. Punishment yang diberikan menjadi tidak efektif jika
tidak mampu meredam kekuatan reinforcement.
Perilaku bermasalah adalah perilaku
individu yang negative dan / atau perilaku yang tidak sesuai dengan apa yang
diharapkan, perilaku yang tidak membawa kepuasaan bagi individu, atau perilaku
yang menyebabkan konflik antara individu dengan lingkungannya.
Perilaku bermasalah terjadi karena adanya
salah suai dalam proses interaksi individu dengan lingkungannya. Perilaku
bermasalah terjadi karena proses belajar, terbentuk oleh peristiwa-peristiwa
yang terjadi sebelumnya. Perilaku akan terbentuk dan dipertahankan jika diberi
ganjaran. Sebaliknya perilaku akan berkurang dan hilang jika diberi hukuman.
Secara general menurut Skinner bahwa
pribadi manusia dapat mempengaruhi tingkah lakunya melalui manipulasi
lingkungan. Asumsi yang mendasari pendekatan behavioral ini adalah bahwa karena
individu yang terganggu oleh berbagai masalah spesifik maka dibutuhkan banyak
strategi untuk menghasilkan perubahan
Konseling behavioral berasusmsi bahwa
perilaku yang salah akibat dari pembelajaran dan pendidikan yang salah, baik
sebagai akibat dari pengaruh lingkungan maupun aspek sosial lainya. Sebagai
contoh, ketika menangani anak yang senang minum-minuman keras, maka yang akan
dilakukan adalah memberikan terapi yang realistis dengan permasalahan yang ada.
Seperti memberikan tahap-tahap dalam mengatasi kecenderungan minuman keras,
disamping itu dengan merubah kebiasaan yang dari klien.
Dari penjelasan mengenai asumsi perilaku
bermasalah yang telah di jelaskan tersebut dapat disimpulkan bahwa
1. Tingkah laku bermasalah adalah tingkah laku atau kebiasaan-kebiasaan
negatif atau tingkah laku yang tidak tepat, yaitu tingkah laku yang tidak
sesuai dengan tuntutan lingkungan.
2. Tingkah laku yang salah hakikatnya terbentu dari cara belajar atau
lingkungan yang salah.
3. Manusia bermasalah itu mempunyai kecenderungan merespon tingkah laku
negatif dari lingkungannya. Tingkah laku maladaptif terjadi juga karena
kesalapahaman dalam menanggapi lingkungan dengan tepat.
4. Seluruh tingkah laku manusia didapat dengan cara belajar dan juga tingkah
laku tersebut dapat diubah dengan menggunakan prinsip-prinsip belaj
3. Tujuan Konseling
Tujuan konseling behavioral adalah membantu klien untuk
mendapatkan tingkah laku baru. Dasar alasannya adalah bahwa segenap tingkah
laku adalah dipelajari (learned), termasuk tingkah laku maladaptive
(salah usai). Jika tingkah laku neurotik learned, maka ia bisa unlearned
(dihapus dari ingatan)Konseling behavioral pada hakikatnya terdiri atas proses
penghapusan hasil belajar yang tidak adaptif dan pemberian
pengalaman-pengalaman belajar yang didalamnya respon-respon yang layak yang
belum dipelajari. (Corey, 2010 : 199)
Dari tujuan diatas dapat dibagi menjadi
beberapa sub tujuan yang lebih konkrit yaitu:
1. Membantu klien untuk menjadi asertif dan mengekspresikan
pemikiran-pemikiran dan hasrat-hasrat ke dalam situasi yang membangkitkan
tingkah laku asertif (mempunyai ketegasan dalam bertingkah laku).
2. Membantu klien menghapus ketakutan-ketakutan yang tidak realistis yang
menghambat dirinya dari keterlibatan peristiwa-peristiwa sosial.
3. Membantu untuk menyelesaikan konflik batin yang menghambat klien dari
pembuatan pemutusan yang penting bagi hidupnya.
Adapun tujuan khusus dari konseling
behavioral adalah membantu klien menolong diri sendiri, mengembalikan klien ke
dalam masyarakat, meningkatkan keterampilan sosial, memperbaiki tingkah laku
yang menyimpang, membantu klien mengembangkan sistem self management dan self
control. (Sutarno, 2003 : 8) Sehingga tujuan dari konseling behavioral adalah
membentuk perilaku baru yang adaptif melalui proses belajar dan lingkungan.
Tingkah laku tertentu pada individu
dipengaruhi oleh kepuasan dan ketidakpuasan yang diperolehnya. Manusia bukanlah
hasil dari dorongan tidak sadar melainkan merupakan hasil belajar, sehingga ia
dapat diubah dengan memanipulasi dan mengkreasi kondisi-kondisi pembentukan
tingkah laku. Adapun karakteristik konseling behavioral menurut Corey (1997)
dan George dan Cristiani (1990) adalah :
1. berfokus pada tingkah laku yang tampak dan spesifik
2. Memerlukan kecermatan dalam perumusan tujuan konseling
3. Mengembangkan prosedur perlakuan spesifik sesuai dengan masalah klien
4. Penilaian yang obyektif terhadap tujuan konseling.
Berdasarkan karakteristik ini dapat
dipahami bahwa tujuan dari terapi tingkah laku dalam konseling adalah :
1. Mencapai kehidupan tanpa mengalami perilaku simtomatik, yaitu kehidupan
tanpa mengalami kesulitan atau hambatan perilaku, yang dapat membuat
ketidakpuasan dalam jangka panjang dan/atau mengalami konflik dengan kehidupan
sosial.
2. Mengubah perilaku salah dalam penyesuaian dengan cara-cara memperkuat
perilaku yang diharapkan, dan meniadakan perilaku yang tidak diharapkan serta
membantu menemukan cara-cara berperilaku yang tepat.
Ada tiga fungsi tujuan konseling
behavioral, yaitu : (1) sebagai refleksi masalah klien dan dengan demikian
sebagai arah bagi proses konseling, (2) sebagai dasar pemilihan dan
penggunaan strategi konseling, dan (3) sebagai kerangka untuk menilai konseling.
Secara operasional tujuan konseling
behavioral dirumuskan dalam bentuk dan istilah-istilah yang khusus, melalui :
(1) definisi masalah, (2) sejarah perkembangan klien, untuk mengungkapkan
kesuksesan dan kegagalannya, kekuatan dan kelemahannya, pola hubungan
interpersonal, tingkah laku penyesuaian, dan area masalahnya, (3) merumuskan
tujuan-tujuan khusus, (4) menentukan metode untuk mencapai perubahan tingkah
laku.
Sedangkan tujuan konseling menurut
Krumboltz harus memperhatikan criteria berikut : (1) tujuan harus diinginkan
oleh klien , (2) konselor harus berkeinginan untuk membantu klien mencapai
tujuan dan (3) tujuan harus mempunyai kemungkinan untuk dinilai pencapaiannya
oleh klien .
Tujuan konseling dikelompokkan dalam tiga
kategori yaitu (1) memperbaiki perilaku salah sesui, (2) belajar tentang proses
pembuatan keputusan, dan (3) Pencegahan timbulnya masalah-masalah.
Adapun tujuan dari pembahasan tentang
teknik konseling behavioral ini adalah :
·
Untuk mengetahui sejarah, konsep, dan
teknik pelaksanaan konseling behavioral dengan baik dan benar.
·
Memahami metode dan ciri khas yang
terdapat dalam pelaksanaan konsep teori behavioral dalam format konseling
kelompok.
·
Menjelaskan kajian-kajian dan peranan
konselor dan konseli dalam proses konseling kelompok behavioral.
Menurut Corey (1986, 178) ada tiga tujuan
dalam konseling behavioral yaitu (1) sebagai refleksi masalah klien dan dengan
demi dan sebagai arah bagi konseling , (2) sebagai dasar pemilihan dan
penggunaan strategi konseling , dan (3) sebagai kerangka untuk menilai hasil
konseling. Urutan pemilihan dan penetapan tujuan yang digambarkan oleh Cormier
and Cormier (Corey, 1986,178) sebagai salah satu bentuk kerja sama antara
konselor dengan klien , adalah sebagi berikut :
1. Konselor menjelaskan hakekat dan maksud dari tujuan .
2. Klien mengkhususkan perubahan –perubahan positif yang dikehendaki sebagai
hasil konseling
3. Klien dan konselor menetapkan tujuan yang telah ditetapkan apakah merupakan
perubahan yang dimiliki oleh klien .
4. Bersama-sama menjajagi apakah tujuan-tujuan itu
5. Mereka mendiskusikan kemungkinan manfaat –manfaat tujuan .
6. Mereka mendiskusikan kemungkinan kerugian-kerugian tujuan.
7. Atas dasar informasi yang diperoleh tentang tujuan klien, konselor dan
klien membuat salah satu keputusan berikut untuk melanjutkan konseling atau
mempertimbangkan kembali tujuan akan mencari referal.
Mereka mendiskusikan kemungkinan
kerugian-kerugian tujuan atas dasar informasi yang diperoleh tentang tujuan
klien ,konselor dan klien membuat salah satu keputusan berikut: untuk
melanjutkan konseling ,atau mempertimbangkan kembali tujuan akan mencari
referral,
Bila pemilihan tujuan di atas dapat
diselesaikan, maka proses penentuan tujuan dimiliki. Proses ini mencakup usaha
bersama dimana konselor dan klien membahas tingkah laku yang dihubungkan dengan
tujuan-tujuan tersebut, kondisi-kondisi perubahan, tingkat perubahan tingkah
laku, hakikat sub-sub tujuan dan rencana tindakan untuk mencapai tujuan-tujuan
tersebut.
Setelah tujuan ditetapkan dan ditentukan,
tugas terapis adalah untuk memilih strategi terapeutik yang dirancang untuk
mencapai tujuan-tujuan tersebut. Dalam poin itulah klien dan terapis melakukan
kesepakatan terapeutik. Gotman dan Laiblum (1973) menyatakan bahwa
kesepakatan/persetujuan tertulis dan ditandatangani dapat digunakan untuk
menegaskan kesepakatan tujuan dan aturan-aturan prosedural treatment. Dalam
pandangan mereka, ada implikasi penting dari memiliki kesepakatan seperti :
·
Kesepakatan terapeutik meningkatkan
kesepalatan-kesepakatan membuat konselor/klien alliance operational.
·
Kesepakatan terapeutik menekankan pada
klien pentingnya partisipasi aktif dalam proses terapeutik dan bukan membantu
perkembangan sikap spektator pasif.
·
Kesepakatan terapeutik adalah hubungan
dasar antara prosedur-prosedur atau teknik-teknik yang digunakan dengan tujuan
kongkrit klien.
Tujuan konseling behavioral berorientasi
pada pengubahan atau modifikasi perilaku konseli, yang di antaranya :
1. Menciptakan kondisi-kondisi baru bagi proses belajar
2. Penghapusan hasil belajar yang tidak adaptif
3. Memberi pengalaman belajar yang adaptif namun belum dipelajari
4. Membantu konseli membuang respon-respon yang lama yang merusak diri atau
maladaptif dan mempelajari respon-respon yang baru yang lebih sehat dan sesuai
(adjustive).
5. Konseli belajar perilaku baru dan mengeliminasi perilaku yang maladaptive,
memperkuat serta mempertahankan perilaku yang diinginkan.
6. Penetapan tujuan dan tingkah laku serta upaya pencapaian sasaran dilakukan
bersama antara konseli dan konselor.
7. Peran Konseling Behavioral
Menurut Corey (2003: 205) menyatakan bahwa terapis tingkah laku harus memainkan
peran aktif dan direktif dalam pemberian treatment, yaitu terapis menerapkan
pengetahuan ilmiah pada pencarian pemecahan-pemecahan bagi masalah manusia,
para kliennya. Terapis tingkah laku secara khas berfungsi sebagai guru,
pengarah, ahli dalam mendiagnosis tingkahlaku yang maladatif dan dalam
menentukan prosedur-prosedur penyembuhan yang diharapkan mengarah pada tingkah
laku yang baru dan adjustive.
Hakikatnya fungsi dan peranan
konselor terhadap konseli dalam teori
behavioral ini adalah :
1. Mengaplikasikan prinsip dari mempelajari
manusia untuk memberi fasilitas pada penggantian
perilaku maladaptif dengan perilaku yang lebih
adaptif.
2. Menyediakan sarana untuk mencapai sasaran konseli, dengan membebaskan
seseorang dari perilaku yang mengganggu kehidupan yang
efektif sesuai dengan nilai demokrasi tentang hak individu untuk bebas mengejar
sasaran yang dikehendaki sepanjang sasaran itu sesuai
dengan kebaikan masyarakat secara umum.
Perubahan dalam perilaku itu harus di usahakan melalui suatu proses belajar
atau belajar kembali, yang berlangsung selama proses konseling. Oleh karena itu
,proses konseling di pandang sebagai suatu proses pendidikan yang berpusat pada
usaha membantu dan kesediaan di bantu untuk belajar perilaku baru dan dengan
demikian mengatasi berbagai macam permasalah. Perhatian di fokuskan pada
perilaku-perilaku tertentu yang dapat di amati ,yang selam aproses konseling
melalui berbagai prosedur dan aneka teknik tertentu akhirnya menghasilkan
perubahan yang nyata, yang juga dapat di saksikan dengan jelas. Semua usaha
untuk mendatangkan perubahan dalam tingkah laku di dasar kanpadateori belajar
yang di kenal dengan nama Behaviorism dan sudah di kembangkan sebelum lahirnya
aliran Behavioral dalam konseling. Konselor behavioral memiliki peran yang
sangat penting dalam membantu konseling. Wol pemengemukakan peran yang harus di
lakukan konselor, yaitu bersikap menerima, mencoba memahami konseli dan apa
yang di kemukakantan pamenilai atau mengkritiknya. Dalam hal menciptakan iklim
yang baik adalah sangat penting untuk mempermudah melakukan modifikasi
perilaku. Konselor lebih berperan sebagai guru yang membantu konseli melakukan
teknik-teknik modifikasi perilaku yang sesuai dengan masalah, tujuan yang
hendak dicapai
Terapi behavior memiliki prosedur kerja yang jelas, sehingga konselor dan
konseli memiliki peran yang jelas. Ini berarti untuk mencapai tujuan terapi sangat
dibutuhkan kerjasama yang baik antara konselor dan konseli. Adapun sikap, peran
dan tugas konseli dalam proses terapi ialah meliputi :
·
Memiliki motivasi untuk berubah
·
Kesadaran dan partisipasi konseli dalam
proses terapi, baik selama sesi terapi maupun dalam kehidupan sehari-hari
·
Klien terlibat dalam latihan perilaku baru
dan umumnya menerima pekerjaan rumah yang aktif (seperti self-monitoring
perilaku bermasalah) untuk menyelesaikan antara sesi terapi.
·
Terus menerapkan perilaku baru setelah
pengobatan resmi telah berakhir.
·
Peran Konselor
Pada umumnya konselor yang mempunyai orientasi behavioral bersikap aktif dalam
proses konseling. Konseli belajar menghilangkan atau belajar kembali bertingkah
laku tertentu. Dalam proses ini, konselor berfungsi sebagai konsultan, guru,
pemberi dukungan dan fasilitator. Ia bisa juga memberi instruksi atau
mensupervisi orang-orang pendukung yang ada di lingkungan konseli yang membantu
dalam proses perubahan tersebut. Konselor behavioral yang efektif beroperasi
dengan perspektif yang luas dan terlibat dengan konseli dalam setiap fase
konseling (Gladding, 2004).
Sikap yang dimiliki oleh konselor behavior ialah menerima, dan mencoba memahami
apa yang dikemukakan konseli tanpa menilai atau mengkritiknya. Dalam proses
terapi, konselor berperan sebagai guru atau mentor. Tugas utama terapis adalah
untuk melakukan tindak lanjut penilaian untuk melihat apakah perubahan yang
tahan lama dari waktu ke waktu
Fungsi dan tugas konselor juga dijelaskan untuk mengaplikasikan
prinsip dari mempelajari manusia untuk memberi fasilitas pada
penggantian perilaku maladaptif dengan perilaku yang lebih adaptif.
Kemudian menyediakan sarana untuk mencapai sasaran konseli, dengan membebaskan
seseorang dari perilaku yang mengganggu kehidupan yang
efektif sesuai dengan nilai demokrasi tentang hak individu untuk bebas mengejar
sasaran yang dikehendaki sepanjang sasaran itu sesuai
dengan kebaikan masyarakat secara umum.
Lebih rincinya peranan seorang konselor dalam proses konseling kelompok ini,
antara lain adalah :
1. Konselor berperan sebagai guru, pengarah, dan ahli dalam mendiagnosis
tingkah laku yang ditunjukan oleh konseli.
2. Konselor harus menerima dan memahami konseli tanpa mengadili atau
mengkritik.
3. Konselor juga harus dapat membuat suasana yang hangat, empatik dan
memberikan kebebasan bagi konseli untuk mengekspresikan diri.
4. Memberikan informasi dan menjelaskan proses yang dibutuhkan anggota untuk
melakukan perubahan.
5. Konselor harus memberikan reinforcement.
6. Mendorong konseli untuk mentransfer tingkah lakunya dalam kehidupan nyata.
·
Peran Konseli
Keberadaan konseli dalam konseling kelompok khususnya behavioral tidak harus
berasal dari konseli yang mempunyai permasalahan yang sama. Setiap anggota
kelompok diberikan kesempatan untuk menanggapi persoalan yang sedang dihadapi
oleh salah seorang anggota kelompok. Di sini, ada semacam sharing pendapat di antara teman sebaya dalam memecahkan
sebuah persoalan.
Terapi behavior memiliki prosedur kerja yang jelas, sehingga konselor dan
konseli memiliki peran yang jelas. Ini berarti untuk mencapai tujuan terapi
sangat dibutuhkan kerjasama yang baik antara konselor dan konseli. Adapun
sikap, peran dan tugas konseli dalam proses terapi ialah meliputi :
·
Memiliki motivasi untuk berubah
·
Kesadaran dan partisipasi konseli dalam
proses terapi, baik selama sesi terapi maupun dalam kehidupan sehari-hari
·
Klien terlibat dalam latihan perilaku baru
dan umumnya menerima pekerjaan rumah yang aktif (seperti self-monitoring
perilaku bermasalah) untuk menyelesaikan antara sesi terapi.
·
Terus menerapkan perilaku baru setelah
pengobatan resmi telah berakhir.
Adapun peranan atau hak seorang konseli dalam proses konseling kelompok behavioral,
antara lain adalah :
1. Setiap anggota mengemukakan masalahnya secara khusus, meneliti variabel
eksternal dan internal yang mungkin menstimulasi dan menguatkan perilakunya dan
lebih lanjut membuat pernyataan perilaku baru yang diharapkan.
2. Konseli dituntut memiliki kesadaran dan berpartisipasi dalam terapeutik.
3. Konseli berani menanggung resiko atas perubahan yang ingin dicapai.
Dalam kegiatan konseling, konselor
memegang peranan aktif dan langsung. Hal ini bertujuan agar konselor dapat
menggunakan pengetahuan ilmiah untuk menemukan masalah-masalah konseli sehingga
diharapkan kepada perubahan perilaku yang baru. Sistem dan prosedur konseling
behavioral sangat terdefinisikan, juga demikian pula peranan yang jelas dari
konselor dan konseli.
Konseli harus mampu berpartisipasi dalam kegiatan konseling, ia harus
memiliki motivasi untuk berubah, harus bersedia bekerjasama dalam melakukan
aktivitas konseling, baik ketika berlangsung konseling maupun diluarkonseling.Dalam hubungan konselor dengan konseli ada beberapa hal yang harus dilakukan,
yaitu :
·
Konselor memahami dan menerima konseli.
·
Antara konselor dan konseli saling
bekerjasama dalam satu kelompok.
·
Konselor memberikan bantuan dalam arah
yang diinginkan konseli.
5. Teknik Konseling Behavioral
Teknik-teknik konseling yang bisa dan biasa digunakan dalam Konseling
behavioral adalah :
1. Latihan Asertif (Assertive training)
Latihan asertif
merupakan latihan mempertahankan diri akibat perlakuan orang lain yang
menimbulkan kecemasan. Klien yang menunjukkan rasa cemas, diberi tahu bahwa
dirinya mempunyai hak untuk mempertahankandiri.Ia silatih untuk memelihara
harga dirinya dengan berulang kali diberi latihan mempertahankan diri. Lathian
seperti ini memungkinkan klien dapat mengendalikan lingkungannya. Apabila
rangsangan dari lingkungan tersebut terlalu kuat sehingga berat untuk
mengendalikannya dapat dilakukan dengan desensitisasi.
Menurut Corey, (2011:213) latihan asertif
akan membantu bagi orang-orang yang (1) tidak mampu mengungkapkan kemarahan
atau perasaan tersinggung, (2) menunjukkan kesopanan berlebihan dan selalu
mendorong orang lain untuk mendahuluinya (3) memiliki kesulitan untuk
mengatakan “tidak” (4) mengalami kesulitan untuk mengungkapkan afeksi dan
respons-repons positif lainnya (5) merasa tidak punya hak untuk memiliki
perasaan-perasaan dan pikiran-pikiran sendiri.
Latihan asertif menggunakan
prosedur-prosedur permainan peran. Suatu masalah yang khas yang bisa
dikemukakan sebagai contoh adalah kesulitan klien dalam menghadapi atasannya di
kantor. Terapi kelompok latihan asertif pada dasarnya merupakan penerapan
latihan tingkah laku pada kelompok dengan sasaran membantu individu-individu
dalam mengembangkan cara-cara berhubungan yang lebih langsung dalam
situasi-situasi interpersonal.Fokusnya adalah memprakterkan melalui permainan
peran, kecakapan-kecakapan bergaul yang baru diperoleh sehinggal
individu-individu diharapkan mampu mengatasi ketakmemadainya dan belajar
bagaimana mengungkapkan perasaan-perasaan dan pikiran-pikiran mereka secara
lebih luas dan terbuka disertai keyakinan bahwa mereka berhak untuk menunjukkan
reaksi-reaksi yang terbuka. (Corey, 2010: 215)
Sehingga dapat disimpulkan untuk latihan
asertif ini lebih membentuk tingkah laku baru dalam menghadapi hubungan dengan orang
lain dan menghapus tingkah laku yang lama yang memuat klien merasa cemas.
Contohnya, seorang siswa yang takut kalau
dimarahi gurunya, pertama-tama klien memainkan peran sebagai gurunya dan
konselor sebagai siswanya, lalu konselor meniru cara siswa dalam berpikir dan
cara menghadapi gurunya. Lalu antara keduanya saling bertukar peran, konselor
sebagai gurunya dengan arahan klien untuk menunjukkan peran guru secara
realistis, sambil konselor melatih dan mengarahkan klien dalam menghadapi
gurunya. Maka secara perlahan akan terbentuk tingkah laku baru pada diri klien.
1. Desensitisasi sistematis
Desensititasi berarti menenangkan ketegangan klien dengan jalan
mengajri/melatih klien untuk santai/rileks. Desensititasi sistematis merupakan
teknik konseling behavioral yang memfokuskan bantuan untuk menenangkan klien
dari ketegangan yang dialami dengan cara mengajarkan klien untuk rileks
Latihan
rileks ini bisa dilakukan dalam lima atau enam sesi. Apabila klien telah mampu
melakukan rileks, klien dibantu untuk menyusun urutan stimulus yang mencemaskan.Dalam hal ini, klien diminta secara bertahap
membayangkan stimulus mulai dari yang paling kurang menemaskan hingga yang
paling mencemaskan; klien dilatih untuk tetap rileks disaat mengahadapi stimulus
yang mencemaskan itu. Demikian seterusnya hingga ia dapat membayangkan stimulus
itu tanpa adanya kecemasan lagi. Jadi, dengan teknik ini dimaksudkan agar klien
dapat mengganti perasaan cemas terhadap stimulus tertentu dengan perasaan
rileks terhadap stimulus tertentu.
Menurut Gerald Corey dalam bukunya Konseling dan Psikoterapi hlm 210 bahwa
Desentisisasi sistematik adalah teknik yang cocok untuk menangani fobia-fobia,
tetapi keliru apabila menganggap teknik ini hanya bisa diterapkan pada penanganan
ketakutan-ketakutan. Desentisisasi sistematik bisa diterapkan secara efektif
pada berbagai situasi penghasil kecemasan, mencakup situasi interpersonal,
ketakutan menghadapi ujian, ketakutan-ketakutan yang digeneralisasi.
Sehingga dapat disimpulkan teknik desentisisasi sistemik ini lebih membantu
klien dalam terapi penyembuhan kecemasan dalam diri klien yang lebih disebabkan
oleh fobia-fobia maupun ketakutan klien dengan mengajak klien untuk rileks
membayangkan hal-hal yang membuat takut dari hal yang paling mengerikan sampai
hal yang kurang mengerikan.
Contohnya, klien fobia dengan balon, selalu ketakutan kalau melihat balon, lalu
klien diajak rileks membayangkan bentuk balon, kecemasan ditingkatkan yaitu
dengan klien diajak melihat balon dari kejauhan, ditingkatkan lagi dengan
mengajak klien memegang balon disini kecemasan klien meningkat tajam sampai
akhirnya klien diajak untuk meletuskan balon disini tingkat kecemasan klien
sampai pada puncaknya dengan memberikan klien stimulus yang berupa motivasi,
musik atau air minum.
1. Pengkondisian Aversi
Teknik ini digunakan untuk menghilangkan
kebiasaan buruk, dimaksudkan untuk meningkatkan kepekaan klien agar mengganti
respons pada stimulus yang disenangi dengan kebalikan respons terhadap stimulus
tersebut, dibarengi stimulus yang merugikan atau tidak mengenakan dirinya.
Hal ini dilakukan dengan cara menyajikan
stimulus yang tidak menyenangkan (menyakitkan) sehingga perilaku yang tidak
dikehendaki tersebut terhambat kemunculannya. Stimulus yang tidak menyenangkan
disajikan tersebut diberikan secara bersamaan dengan munculnya perilaku yang
tidak dikehendaki kemunculannya. Pengkondisian ini diharapkan terbentuk
asosiasi antara perilaku yang tidak dikehendaki dengan stimulus yang tidak menyenangkan.
Contoh, untuk menyembuhkan pria homoseks. Kepada pria homoseks
diperlihatkan foto pria telanjang sambil mengalitkan setrum listrik pada
kakinya yang tidak beralas.Dalam terapi ini, setiap kali
kepada klien diperlihatkan stimulus yang disenangi (foto pria telanjang)
diikuti dengan rasa sakit akibat di setrum listrik.Begitu terus setiap melihat
foto pria telanjang selalu dibarengi rasa sakit dan lama kelamaan tidak
tertarik lagi pada pria.
Teknik- teknik pengkondisian aversi, yang
telah digunakan secara luas untuk meredakan gangguan-gangguan behavioral
spesifik, melibatkan pengasosian tingkah laku yang tidak diinginkan terhambat
kemunculan.Stimulus-situmulus aversi biasanya berupa hukuman dengan kejutan
listrik atau pemberian ramua yang membuat mual.Kendali aversi bisa melibatkan
penarikan pemerkuat positif atau penggunaan berbagai bentuk hukuman.
Contoh pelaksanaan penarikan pemerkuat positif adalah mengabaikan ledakan
kemarahan anak guna menghapus kebiasaan mengungkapkan ledakan kemarahan pada si anak.Jika perkuatan ditarik, tingkah laku yang tidak diharapkan cenderung berkurang
frekuensinya.
Contoh penggunaan hukuman sebagai cara
pengendalian adalah pemberian kejutan listrik kepada anak autistik ketika
tingkah laku spesifik yang tidak diinginkan muncul. Butir yang penting adalah
bahwa prosedur-prosedur aversif ialah menyajikan cara-cara menahan
respons-respons maladaptif dalam suatu periode sehingga terdapat kesempatan
untuk memperoleh tingkah laku alternatif yang adaptif dan yang akan terbukti
memperkuat dirinya (Corey, 2010:216-217)
Sehingga dapat disimpulkan bahwa terapi
aversif ini lebih membentuk tingkah laku baru yang lebih spesifik yang adaptif
dari yang semula maladaptif, atau tingkah laku yang sesuai aturan.
1. Pembentukan Tingkah laku Model
Teknik ini dapat digunakan untuk membentuk
tingkah laku baru pada klien, dan memperkuat tingkah laku yang sudah terbentuk.
Dalam hal ini konselor menunjukkan kepada klien tentang tingkah laku model,
dapat menggunakan model audio, model fisik, model hidup atau lainnya yang
teramati dan dipahami jenis tingkah laku yang hendak dicontoh. Tingkah laku
yang berhasil dicontoh memperoleh ganjaran dari konselor. Ganjaran dapat berupa
pujian sebagai ganjaran sosial.
6. Naskah dialog pelaksamaan konseling
Behavioristik
Naskah Dialog Behavioristik
·
Tema : Phobia
·
Ritme Cerita
1. Pemeran : Nurmadita Sari sebagai konselor
Sofah Marwah sebagai konseli
Ade Peni Afifah sebagai sutradara
Enci Ranyu sebagai kameramen
Nur Khomisah sebagai editor
1. Permasalahan : Sofah marwah memiliki phobia terhadap ulat
yang berlebihan
2. Latar :
Tempat : Universitas Pancasakti Tegal
Waktu : Siang jam 11.00 WIB
1. Attending
Konseli
: (Mengetuk pintu), “Assalamu’alaikum Wr. Wb.” Berjabat
tangan dengan konselor.
Konselor
: Wa’alaikum Salam, menghampiri klien dan mempersilahkan
duduk.
1. Opening
Konseli :
(Duduk di kursi yang telah dipersiapkan) maaf bu, siang-iang
gini sudah mengganggu.
Konselor : Oh…, tidak
apa-apa mb sofah, oya bagaimana kabarnya mb ?
(senyum dan mulai percakapan).
Konseli :”
Alhamdulillah baik bu”.
Konselor : Syukurlah
kalau begitu, bagamana dengan kuliahnya?
Konseli :
Alhamdulillah lancar bu,
Konselor : Oya, ada yang
bisa ibu bantu.
1. Acceptance
Konseli :Hmm…
gini bu, saya itu pobia dengan ulat, dan pobia
itu sangat mengganggu saya.
Konselor : Iya…ibu dapat
memahami perasaan mb sofah (sambil
mengangguhkan kepala).
Konseli : Iya
bu, bagaimana tidak mengganggu, saya terkadang di
bully oleh teman- teman saya, itu membuat saya ketakutan
bu.
Konselor : Konselor
mengangguk kepala dan memandangi konseli)
hmm…iya..iya..
1. Restatement
Konseli
:Saya benar-benar merasa takut terhadap ulat bu. Yang hal
tersebut membuat saya sering dibully.
Konselor : Mba sofah
merasa takut.
1. Reflection of feeling
Konseli
: Bu.. saya sudah berusaha mencoba agar tidak takut terhadap
ulat tapi tetap saja.
Konselor : Sepertinya
anda merasa kecewa terhadap usaha anda.
1. Clarification
Konseli :
Dulu saya pernah kejatuhan ulat di pundaknya, muka ulat
tersebut menghadap kemuka.hal tersebut membuat saya
takut dan trauma hingga sekarang.
Konselor : Dengan kata
lain, anda takut karena pernah kejatuhan ulat.
1. Paraphrashing
Konseli
: Hal ini membuat saya merasa takut dan trauma yang
berkepanjangan.
Konselor : “Tampaknya
anda merasa tertekan”
1. Structuring
Konseli :
Saya sulit sekali menyesuaikan diri dengan teman-teman
yang membully saya.
Konselor : Anda kemari
untuk membahas masalah anda dengan saya.
Marilah kita manfaatkan waktu 45 menit itu dengan
sebaik-
baiknya, saya tidak dapat memberikan nasihat sebagaimana
yang anda minta. tetapi, marilah kita bicarakan masalah ini
bersama.
Konseli : Bu.
Saya sulit sekali untuk menghilangkan pobia ini, karena
pobia ini saya sering di bully oleh teman-teman, jadinya saya
terganggu.
Konselor : Dalam masalah
yang anda kemukakan tadi setidaknya ada 3
masalah yaitu pobia, di bully teman, dan terganggu.
Konseli : Bu,
bagaimana cara penanganannya agar pobia ini sembuh?
Konselor : Coba anda
tenangkan dulu, tarik nafas dan relaksasikan
pikiran anda.
Konseli :
(Diam) saya bingung bu harus bagaimana lagi.
Teknik Konseling Thought Stopping
Konselor : Coba anda
tutup mata, bayangkan di depan anda ada sebuah
ulat. Kemudian katakan dalam hati “Saya tidak takut ulat”
berkali-kali (beberapa menit).
Konseli :
“(Diam dan membayangkan)”.
Konselor : Bagaimana
perasaanmu? Apakah lebih baik?
Konseli :
Saya masih merasa takut bu.
Konselor :Kalau begitu, ini
ada sebuah gambar. Coba anda lihat gambar
ini (sambil menunjukkan gambar ulat yang sebelumnya sudah
di browsing).
Konseli :
(Histeris)
Konselor : (mencoba
menenangkan klien)
Konseli :
(mulai tenang)
Konselor : Bagaimana mba
sofah apakah ingin berhenti sampai sini saja
atau di lanjut dilain hari?
Konseli :
Saya rasa cukup untuk hari ini dan diganti dilain hari saja
bagaimana bu?
Konselor : Iya saya bisa.
·
Hari kedua
Konseli :
(Mengetuk pintu), “Assalamu’alaikum Wr. Wb.” Berjabat
tangan dengan konselor.
Konselor : Wa’alaikum
Salam, menghampiri klien dan mempersilahkan
duduk.
Konseli :
(Duduk di kursi yang telah dipersiapkan) maaf bu,
siang-
siang gini sudah mengganggu.
Konselor : Bagaimana mba sudah
siap untuk melanjutkan konseling?
Konseli : Ya
saya sudah siap bu
Konselor : Disini saya
akan menunjukan gambar ulat kembali, apakah
anda sudah siap?
Konseli : Iya
bu saya sudah siap
Konselor : (menunjukan
gambar ulat kepada konseli)
Konseli :
(histeris yang sudah mulai berkurang)
Konselor : coba anda pegang
foto ulat ini.
Konseli : (sudah
berani memegang gambar ulat)
Konselor : Anda untuk
saat ini sudah ada perubahan.
Saya
memiliki mainan ulat, apakah anda berani untuk
memegangnya?
Konseli :
(ekspresi ragu) baik saya akan mencoba bu
Konselor : Baik saya akan
mengambil mainan ulat dulu
Konseli : Silahkan
bu
Konselor : (menyodorkan
mainan ulat kepada konseli) coba anda sentuh
ulat ini
Konseli : (agak
ragu sambil menyentuh ulat secara perlahan-lahan)
Konselor : Coba anda tenang
dulu (sambil mengelus pundak klien).
Coba sekali
lagi anda coba untuk memegang ini
Konseli : Baiklah
Bu… (sambil memegang ulat dan berkurang
histerisnya)
Konselor : sejauh ini anda
sudah ada perubahan mengenai phobianya
dari melihat ulat sampai memegang ulat
Konseli : Terima
kasih bu sudah membuat saya untuk menghilangkan
phobia ulat
Konselor : Iya sama-sama bu.
Jangan sungkan-sungkan lagi ketika
meminta bantuan lagi.
Konseli :
(bersalaman dengan konselor dan meninggalkan ruang.
BAB III
PENUTUP
1. Saran
Demikianlah makalah yang sederhana yang
telah tersusun jika masih ada banyak kekurangan di sana sini. Oleh karena itu
penyusun mengharapkan kritik dan saran yang membangun demi perbaikan makalah
ini.
2. Simpulan
Sejarah
konseling behavioral bermula pada Ivan Sechenov (1829-1905), bapak psikologi
Rusia. Struktur hipotetiknya, dikembangkan sekitar 1863.
Konseling Behavioral pada mulanya disebut dengan Terapi Perilaku yang berasal
dari dua arah konsep yakni Pavlovian dari Ivan Pavlov dan Skinnerian dari B.F.
Skinner. Mula-mula terapi ini dikembangkan oleh Wolpe (1958) untuk
menanggulangi (treatment) neurosis. Tujuan terapi adalah untuk memodifikasi
koneksi-koneksi dan metode-metode Stimulus-Respon (S-R) sedapat mungkin.
Konseling behavioral dikenal juga dengan modifikasi perilaku yang dapat
diartikan sebagai tindakan yang bertujuan untuk mengubah perilaku
Dalam
konsep behavioral, perilaku merupakan hasil belajar, sehinga dapat diubah
dengan manupulasi dan mengkreasi kondisi-kondisi belajar. Pada dasarnya, proses
konseling merupakan suatu penataan proses atau pengalaman belajar untuk
membantu individu memngubah perilakunya agar dapat memecahkan masalah.
Tingkah laku bermasalah adalah tingkah laku atau kebiasaan-kebiasaan negatif
atau tingkah laku yang tidak tepat, yaitu tingkah laku yang tidak sesuai dengan
tuntutan lingkungan. Tingkah laku yang salah hakikatnya terbentuk dari cara
belajar atau lingkungan yang salah.
Adapun tujuan khusus dari konseling behavioral adalah membantu klien menolong
diri sendiri, mengembalikan klien ke dalam masyarakat, meningkatkan
keterampilan sosial, memperbaiki tingkah laku yang menyimpang, membantu klien
mengembangkan sistem self management dan self control. Sehingga tujuan dari
konseling behavioral adalah membentuk perilaku baru yang adaptif melalui proses
belajar dan lingkungan.
Menurut Corey (2003: 205) menyatakan bahwa terapis tingkah laku harus memainkan
peran aktif dan direktif dalam pemberian treatment, yaitu terapis menerapkan
pengetahuan ilmiah pada pencarian pemecahan-pemecahan bagi masalah manusia,
para kliennya. Terapis tingkah laku secara khas berfungsi sebagai guru,
pengarah, ahli dalam mendiagnosis tingkahlaku yang maladatif dan dalam
menentukan prosedur-prosedur penyembuhan yang diharapkan mengarah pada tingkah
laku yang baru dan adjustive.
Teknik-teknik konseling yang bisa dan biasa digunakan dalam Konseling
behavioral adalah :
1. Latihan Asertif (Assertive training)
2. Desensitisasi sistematis
3. Pengkondisian Aversi
4. Pembentukan Tingkah laku Model
Tidak ada komentar:
Posting Komentar